Sabtu kemarin aku menonton film Laskar Pelangi di Studio 21 Yogyakarta. Aku pikir datang jam 10.30 untuk beli tiket udah cukup pagi untuk menghindari antrian panjang. Tapi ternyata oh ternyata, aku kalah cepet dibanding orang2 yang juga berburu tiket film ini. Pas aku tiba disana antriannya udah panjang banget,melingkar2 sampai keluar studio. Untuk yang baru datang, ujung antriannya ada di depan pintu masuk CAESAR CAFE. Nah, disinilah aku mulai berbaris ikut mengantri…
Ada 3 jalur baris antrian, aku berada di jalur kedua. Dibelakangku ada seorang ibu2 yang sangat cemas bakal kebagian tiket apa tidak. Ibu itu pengennya nonton yang jam 4 sore karena dia nonton bersama anak2nya. Ughhh, masih kebagian tiket gak ya?
Hampir setengah jam ngantri, aku ketemu Thomas Geronimo yang ”nyerah” dan keluar dari baris antrian. ”Yang jam 7 malem dan 4 sore udah habis!”, katanya. Dia gak mungkin nonton yang di atas jam 9 karena ceweknya punya jam malem. Kasian deh Thomas, malam mingguannya ga jadi nonton bareng deh,hehehe..
Mendengar yang jam 4 sore juga udah habis, ibu yang dibelakangku juga ikutan nyerah. ”Besok saya datang jam 9 pagi aja!”, kata ibu itu. Buk, jam 9 studionya belum buka lho. Jangan lupa bawa cemilan ya buk, ntar bete lho nunggunya. Selamat berjuang Bukkk…
Tak lama kemudian dipasang lagi pengumuman kalo yang siang juga udah habis. Jadi pilihan tinggal yang jam 20.30, 21.00, 21.30, dan 23.00(midnight show). Kalau aku dapat tiket jam berapapun ga masalah yang penting posisi duduknya menyenangkan. Kalau posisi duduk yang jam 21.30 lebih menyenangkan daripada jam 20.30 maka aku akan pilih yang jam 21.30.
Nah, gambar itu aku ambil pas 40 menit mengantri. Posisiku masih diluar studio, yang antri dibelakangku juga masih panjang, lagi2 sampai depan Caesar Cafe. Nih aku kasih gambar lagi pas aku sudah sampai di pintu masuk studio 21.
Film ini sebenarnya udah tayang lebih dari setengah bulan tapi yang mengherankan antriannya masih saja panjang. Selain diputar di studio 1 yang mana kapasitasnya paling besar, film ini juga disisipkan di studio 2, 3, 4, dan 5 untuk beberapa kali penayangan. Jadi dalam sehari film ini diputar sebanyak 9 kali (10 kali kalau hari sabtu). Pantas saja kalau film ini sudah disaksikan oleh jutaan penduduk indonesia melihat dari antusiasme yang masih tinggi sampai saat ini.
Akhirnya setelah hampir 1,5jam mengantri, tiket pun udah ditangan. Aku kebagian yang jam 21.30, ya sudah gapapalah. Selamat menonton…
Pukul 23.30 aku selesai menonton film ini. Ternyata jam segini masih banyak anak2 yang ikutan nonton, padahal udah lumayan malam loh. Tapi sebagian dari mereka malah udah pada ketiduran sambil digendong orang tuanya keluar bioskop, kasian ya hehehe…
Menurutku film ini bagus, aku kasih 4 dari 5 bintang. Riri Riza berhasil memvisualisasikan sebuah novel ke dalam bentuk layar lebar. Walaupun ada bagian2 yang mengalami penyederhanaan cerita sehingga menyebabkan hilangnya beberapa detail tertentu tapi itu tak mengurangi keutuhan cerita laskar pelangi versi novel. Mungkin kalau mau dibikin persis sama dengan novel gak cukup film berdurasi 2 jam kali ya, lebih pas kalau dijadikan serial tv belasan episode (tapi bukan sinetron tv yang stripping tiap hari sampai ratusan episode loh ya, bisa hancur ceritanya ntar).
Mmm, tapi scriptwritter sempet2nya ya menambah satu cerita yang sebenarnya tidak ada di novel. Aku sempat bertanya2, apa aku lupa isi novelnya atau bagian ini hanya tambahan di film sebagai bumbu agar lebih dramatis lagi. Tak apa2lah, toh tidak merusak cerita, beda seperti film ayat2 cinta.
Cara pengambilan gambar di film ini keren banget sehingga kita yang menonton juga dimanjakan keindahan alam belitong. Aku harap piala citra diraih film laskar pelangi untuk kategori ini (nama kategorinya apa ya?). Cut Mini kandidat yang paling kuat (mengalahkan Carissa Putri dan Titi Kamal) untuk meraih piala citra kategori pemeran utama wanita. Pemeran Mahar (aku belum hapal nama aslinya) juga bagus lho aktingnya, bisalah masuk kategori pemeran pendukung pria terbaik. Dan tentunya, bersiaplah untuk menerima penghargaan film terbaik 2008. Tak lupa, soundtrack dari Nidji juga nendang abisss, hehehe…
Scene favoritku adalah ketika lintang memutuskan untuk berhenti sekolah, mengharukan banget karena orang sepintar lintang harus putus sekolah. Kalau dilihat ke belakang, betapa gigih perjuangannya untuk meraih pendidikan. Tanpa patah semangat dia mengayuh sepeda puluhan kilo dari pesisir ke SD Muhamadiyah, dan kadang2 harus bertemu buaya dalam perjalanan. Namun karena nasib telah menentukan, dia terpaksa putus sekolah.
Film ini layak ditonton, selain banyak memberi pelajaran juga memberi warna dalam perfilman Indonesia. Semoga sineas2 Indonesia kembali menghadirkan film2 bermutu bagi bangsa ini. Siapa tau, suatu saat nanti salah satu film karya anak bangsa bisa dapat piala oscar.
Ngomongin tentang film, jangan lupa ya untuk menyaksikan pemutaran film2 dokumenter dari Eagle Awards Competition di Metro TV pada tanggal 13-17 Oktober 2008 pukul 19.30-20.00 WIB.

