Feeds:
Tulisan
Komentar

GOA CERME

Sabtu, 27 Maret 2009 aku dan beberapa teman berangkat ke goa cerme yang berada di Dusun Srunggo, Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul. Sebenarnya perjalanan ini idenya Rama sejak dulu (sebelum KP kayaknya) dan harus dipending beberapa kali, tapi untunglah akhirnya terlaksana juga. Setelah sepakat berangkat hari sabtu, kami menghubungi beberapa teman yang mau ikutan. Cukup banyak yang kuhubungi dan beberapa diantaranya bilang ga bisa ikut karena berbagai alasan, yang mau ikut adalah Taufik, Dinar, Wisnu, dan Moris. Jadilah kami berenam, cukup rame juga.

Janji berangkat jam 8 dari tempatku tinggal janji, selalu aja ada excuse. Kenapa sih kalo janji ga bisa ontime, huhh… Padahal aku dah standby sejak jam 7 (sambil nonton insert pagi, hahaha). Oiya, wisnu ga jadi ikut. Dia mengabari bahwa ada rapat dikantornya hari ini dan ga bisa ditinggal.

Jam 9 lewat, setelah semuanya ngumpul, kami segera tancap gas. Cuaca cukup cerah dan panas ala jogja. Jalur yang kami tempuh melalui jalan imogiri timur. Dari terminal giwangan terus ke selatan, sampai ketemu perempatan yang ada traffic light-nya terus ke selatan lagi. Sampai akhirnya ketemu sebuah jembatan yang lumayan panjang dan setelahnya ada sebuah pertigaan. Kami belok kanan pada pertigaan itu sesuai petunjuk plang yang ada. Kemudian ada sebuah pertigaan lagi yang salah satunya adalah jalur tanjakan. Untuk menuju Goa Cerme harus melalui tanjakan ini, tanjakannya cukup terjal (sangat terjal malah). Namun jangan khawatir karena aspalnya cukup bagus (walaupun sempit) sehingga perjalanan tetap lancar walau harus mengurangi kecepatan. Pemandangannya juga bagus banget, hijau terhampar di kiri kanan jalan sehingga menyejukkan mata. Sampai akhirnya ketemu pertigaan yang ada beringinnya, ambil jalur lurus (tetap menanjak, malah lebih terjal lagi) agar dapat langsung parkir di depan mulut Goa.

Akhirnya kami sampai juga, jarak dari rumahku ke goa ini sekitar 20 km. Setelah memarkir motor, kami segera membeli tiket masuk. Harganya Rp 2250/orang (sudah termasuk asuransi). Oiya, sebaiknya kita menyewa jasa pemandu selama di dalam goa agar tak tersesat. Biayanya Rp.25.000 dan kami bagi 5.

Setelah mengganti celana dengan celana pendek (kecuali dinar yang tetap memakai celana panjang, takut panunya keliatan soalnya, hahaha) dan memakai sepatu (kecuali rama, soalnya dia lebih sayang sepatu daripada kaki kali ya, hehehe) kami segera menuju mulut goa. Sebelum itu, mumpung pemandangannya cukup bagus maka ga mungkin kami melupakan sesuatu yang penting, yaitu sesi pemotretan. Yup, pasang aksi dulu ya….

Di depan Goa

Ini adalah pengalaman pertama kami caving, kami sangat menikmati pemandangan di dalam goa ini, stalaktit dan stalakmitnya indah banget. Dulu waktu SMA, tau stalaktit cuma dari pelajaran geografi tapi sekarang dapat melihat langsung keindahan alam semesta. Benar2 indah, coba aja aku bawa palu mungkin udah kupecahin sedikit stalaktit untuk dibawa pulang (upsss, becanda ya. Ga boleh jadi perusak seperti ini). Dinar sempat berkomentar, coba aja goa ini ada listriknya pasti bakal lebih asik menikmati pemandangannya. Mungkin memang benar, tapi kalo begitu ga ada lagi nilai petualangann dan goa ini terasa kurang alami. Selain itu mungkin saja goa ini akan rusak dengan tulisan dari tangan2 jahil. Tapi dibalik itu semua, sebenarnya diperkampungan sini memang belum masuk listrik juga sih, hehehe…

Kristal2 Stalaktit

Kami semua enjoy menyusuri goa, tapi yang paling excited sepertinya rama. Dari awal dia sudah menceburkan diri, di air yang agak dalam dia menyusuri goa sambil berenang (padahal tetap aja dangkal buat berenang, kedalaman air bervariasi dari lutut hingga pinggang kami). Kami terus melanjutkan perjalanan, tiba2 aku mendengar seperti bunyi hujan. Semakin dalam kami menyusuri goa, semakin keras suara seperti hujan tersebut. Dan akhirnya kami melihat sebuah air terjun (ternyata bunyi seperti hujan tadi berasal dari air terjun ini)…

Air Terjun

Ternyata di dalam goa ada air terjunnya, keren euy… Awalnya sih aku males untuk basah2an sampe ke badan, tapi ngeliat rama begitu asiknya diguyur air terjun dan kemudian taufik juga ikut2an maka aku pun tergoda juga. Dingin, segar dan menyenangkan…

Perjalanan berlanjut, setelah meninggalkan air terjun jalur yang ditempuh lumayan bikin capek. Beberapa kali kami harus merunduk sedalam2nya karena lorongnya begitu rendah. Taufik apa dinar ya (aku lupa) beberapa kali kepalanya kejedot stalagtit, hehehe… Karena sedikit capek, bapak pemandu mengajak kami beristirahat sejenak sambil duduk dibebatuan.

Lalu, si bapak menyuruh kami mematikan semua senter yang ada dan meminta kami untuk hening sejenak (aih, ide bapak ini bagus juga). Gelapppppp, hitammmm…. Ga ada cahaya sama sekali, gini rupanya dunia tanpa cahaya. Tapi sesekali ada aja diantara kami yang nyalain senter (siapa coba?), takut gelap kali ya, hehehe…

Sisa perjalanan yang ada perjuangannya makin berat lagi karena semakin banyak langit2 yang rendah yang memaksa kami untuk jalan jongkok (jadi inget perjuangan para pahlawan pas jaman romusha). Oiya, ternyata di goa ini banyak sekali kelelawarnya. Pertamanya aku bingung bau apa yang tidak enak ketika setengah perjalanan kedua ini, bapak pemandu bilang kalo bau itu berasal dari kotoran kelelawar. Setelah kami menyenter ke atas ternyata emang banyak kelelawar yang berterbangan.

Dan akhirnya, sampailah kami di jalan jongkok terakhir dan jalurnya cukup panjang. Setelah melewati jalur itu, kami pun dapat melihat cahaya matahari lagi…. Lelah dan menyenangkan…

Dari pintu keluar (jangan bayangin goa ada pintunya loh ya) menuju mulut goa dibutuhkan jalan kaki kira2 500 m. Sambil berjalan kami bercanda dan berandai2, coba aja disini dibikin wahana flying fog, jadi kita ga usah susah2 jalan. Atau kalo ga, perosotan juga gapapa deh…

Pengen ke goa mana lagi ya? Hm, mudah2an suatu saat diberi kesempatan untuk mengunjungi goa hira biar sekaligus meningkatkan spriritual intelligence. Oya, ada sedikit tips buat yang mau caving di goa cerme:

1. Kalo janjian sama orang2 yang suka ngaret, janjiannya mesti dimajuin 1 jam dari jam keberangkatan.

2. Jangan lupa bawa senter, didalam goa ga ada cahaya sama sekali. Tapi kalo lupa, disana ada jasa rental koq (cuma senternya itu pake aki, dan siap2 deh ngalungin aki dileher).

3. Bawa pakaian ganti ya, terutama underwear. Hayo, siapa yang ga bawa underwear?

4. Lebih asik pakai sepatu daripada sandal soalnya kita mesti berjalan di air. Tapi jangan sepatu yang bagus juga ya (sayang sepatunya kalo gitu).

5. Jangan lupa sarapan dulu ya biar tenaganya kuat, hehehe

6. Jangan lupa menyewa jasa pemandu (cuma 25ribu), bisa diminta tolong buat jadi tukang foto juga kalo kita mau foto rame2, hehehe… Selamat Caving

P.s : Thanx buat Bety dan vera atas infonya ya :d

di depan goa

Adhie FM in action


Earth Hour

Kemarin sabtu jam 8.30 malam ada yang berpartisipasi dalam kampanye Earth Hour ga? Kalo ada, kita sama donk… Rumahku kemarin gelap gulita karena semua lampu dimatiin. Sekali-kali berpartisipasi dalam kampanye global menyelamatkan bumi gak ada ruginya juga, toh cuma matiin lampu.

Mmm, sebetulnya kemarin itu ikutan kampanye secara ga sengaja sih (bukan kampanye konvoi turun ke jalanan kayak yang lagi marak ini loh ya). Jadi, ceritanya pas hari sabtu itu aku caving di goa creme trus sorenya pas mau istirahat (tidur sore) iseng nyalain tv. Tapi ternyata ada acara yang lumayan menghibur (hayo, acara apa coba?), ga jadi tidur deh. Alhasil capek dan ngantuknya makin memuncak pas malam tiba.

Nah, pas jam 8 malam mataku dah ga kuat dan akhirnya kuputuskan untuk tidur (dengan mematikan lampu tentunya). Artinya lampu kamarku mati 30 menit lebih awal dari kampenye Earth Hour dan secara tidak langsung menjadi partisipan kampaye jam bumi, ya tho… Kebetulan yang manis ya, hehehe… Tapi sebenarnya aku dah prepare sejak jauh2 hari koq pengen ikutan, jadi kalopun kondisiku saat itu tidak ngantuk pasti akan tetap matiin lampu juga selama 1 jam. Tapi kalo adek2ku sengaja berpartisipasi lho, mereka semua mematikan lampu makanya rumah jadi gelap.

Pencetus ide earth hour ini sangat bijaksana menurutku, misinya mengajak setiap individu untuk berpartisipasi mewujudkan satu jam yang menentukan masa depan dunia, dengan memadamkan lampu untuk melawan perubahan iklim. Memang terlihat kecil, tetapi jika setiap individu mau melakukannya tentu akan banyak menghasilkan saving energy. Setiap orang dapat berbuat sesuatu untuk melakukan perubahan. Nah, makanya aku antusias ingin berpartisipasi (padahal sambil tidur, hahaha).

Oiya, aku tau tentang Earth Hour ini dari video kiriman temanku dan juga belakangan rame di facebook dan metro tv. Earth Hour pertama kali diselenggarakan di Sydney pada tahun 2007 dan peserta satu2nya adalah Sydney itu sendiri. Kemudian pada tahun 2008 Earth Hour sudah mulai mendunia dengan partisipan 35 negara dan lebih dari 400 kota. Mulai dari Amerika Serikat, Kanada, Italia, Belanda, Filipina sampai Fiji. Yang tak kalah menarik adalah ketika om google juga berpartisipasi dengan membuat tampilan berwarna hitam pada layar mereka di hari Earth Hour dengan tagline “We’ve turned the lights out. Now it’s your turn”.

Pada tahun 2009 ini Indonesia, khusunya Jakarta, juga berpartisipasi dengan mematikan lampu pada 5 ikon Jakarta yaitu Bundaran Hotel Indonesia dan air mancurnya. Monas dan air man-curnya, Gedung Balai Kota, Patung Pemuda dan air mancur Arjuna Wiwaha. Menara Petronas di Kuala Lumpur juga turut ambil bagian dalam kampanye ini.

OOT, sebenarnya kampung halamanku sangat concern pada kampanye Earth Hour ini lho. Mau bukti? Jauh sebelum adanya Earth Hour ini di kampungku sering terjadi pemadaman bergilir 3 1 (tiga malam nyala satu malam mati) dari magrib sampai jam 10 malam. Coba itung, dalam sebulan berapa jam mati lampu. Trus kalo setahun? Nah, berarti kampung halamanku sangat peduli earth hour tho?

Oke, buat yang kemarin belum sempat berpartisipasi dalam kampanye ini dan setelah membaca tulisan ini jadi tergugah ingin menjadi partisipan belum terlambat koq (Duhhh, sok2 banget sih ya… Kayak tulisan ini mampu menggugah hati semua orang aja, hahaha). Kampanye Jam Bumi masih terus berlanjut, masih ada tahun depan dan tahun depannya lagi setiap Sabtu terakhir di bulan Maret. Atau anda dapat melakukan penghematan energi secara kontinyu setiap hati dengan menggunakan energi seperlunya saja.


1 Message Received

Kemaren, sekitar jam 6 (petang) lebih dikit tiba2 hp-ku berdering, “1 Message Received” begitu tulisannya. Ya udah, langsung aja kubuka… Dan ternyata pengirimnya adalah “FeMaleRadio” . Aku kaget, seingetku aku gak pernah nyimpen nama female radio di phonebook-ku dengan nama “FeMaleRadio” , tapi “FM Female” . Trus kenapa juga Female Radio mengirimi aku sms. Ya udah, daripada bingung langsung aja kubuka sms itu.

“wait Why !coba Ayo .ZERO SPRITE ???…tuh Apa .Sugar Zero Taste Sprite Great …nih baru yang Ada. Bingung? Baca dari bawah ke atas dan klik www.femaleradio.com”. Sender: FeMaleRadio

Aneh sih ya smsnya, tapi bukan “keanehan” isi smsnya yang kutanyakan. Tapi koq bisa ya mereka punya nomerku. Seingetku aku dah lama banget gak pernah sms ke female radio, setengah tahun lebih kayaknya, hehehe… Tapi kalo interaktif lewat YM lumayanlah (terakhir dapet buku pas female & friend lewat pertanyaanku by YM, bukan hp lho ya). Oiya, sms itu gak bisa dibales karena gak ada nomer pengirimnya. Ya sudahlah, tapi bangga juga nomerku ada di database-nya FeMale Radio, hehehe… Nomerku jangan sape hilang lho ya

Upzzz, sebelum ada yang salah paham mending tak ceritain dulu ya (emang ada yang salah paham ya?). Gini, radio kesayanganku tetap radio yang satu itu koq (Lha, trus knapa namamu ada di database-nya female? Kamu selingkuh ya?)… Bukan, bukan selingkuh koq. Pas dengerin female itu aku merasa masih seperti dengerin gero koq (cuma beda dikitlah). Eits, gimana ya jelasinnya. Gini deh, beberapa orang penyiar favoritku dari radio kesayanganku akhirnya memutuskan untuk siaran di Female. Nah sejak saat itu aku sesekali dengerin female, itupun cuma kalo mereka siaran, kalo engga ya engga. Nah lumayan sering juga kirim sms, mungkin sejak itu kali nomerku tersimpan disana, hehehe… Tapi sejak mbak ririen cabut dan mbak ian gantung suara (tapi sekarang sementara siaran lagi ya, hehehe) plus gak ada fragmen pas puasa lalu udah jarang dengerin lagi deh…

Eh, tapi bukan hanya aku yang dapet sms itu. Temenku panggih juga dapet sms yang sama ternyata. Just wonder, how could they pick me? And how do they get my number? Did they save it? Aku dah lama bgt lho terakhir sms female”

Ya udah itu aja, tp sejujurnya aku senang aja dapet sms itu (lebay banget gak sih? Biarin deh, hehehe..). Oiya, nomerku juga ada di database radio kesayanganku koq kayaknya. Soalnya beberapa kali aku pernah ditelpon oleh “greetings from america”. Kamu dulu pernah di telp juga gak pank?

Love Yogya and You

New Entry

Ngeblog lagi ya, dah lama absen soalnya, hehehe… Kali ini aku mau nge-review beberapa lagu yang baru aja tak download.

Laluna – Sesali Tak Sejak Dulu

Ketika lagu ini diputer di radio kesayanganku, aku langsung bertanya2. Ini lagu siapa sih? Asik, simple, dan sederhana. Musik2 kayak gini mengingatkan aku sama Laluna. Kebetulan aku dan si penyiar sedang online, jadi langsung tak tanya aja:

“ Melati (nama disamarkan ya, hahaha), lagu siapa sih yang easy listening ini? Kayak2 Laluna, Laluna bukan?”

“Iya, emang laluna.”

Owh, single terbaru Laluna ternyata… Lagu tipe2 kayak gini enak banget didengerin sambil istirahat setelah shalat magrib dan bermalas2an dikamar. Sambil minum teh anget, juga sambil dengerin ocehan penyiarnya. Lagunya Layak masuk playlist-ku bulan ini

Maia – Serpihan Sesal

“ 106.1 Geronimo The Real Sound of Yogya. Maia kancamuda yogya, Serpihan Sesal….”

Apa? Maia? Koq sepertinya beda ya? Kebetulan aku dan si penyiar masih online jadi langsung aja kutanya.

“Melati (Nama masih disamarkan ya), itu Maia yang Duo itu ya? Koq Genrenya beda?

“Iya, ngepop abesss ya” jawab melati.

Soalnya lagu Maia belakangan kebanyakan yang upbeat, jadi kaget aja dengerin mereka ngepop. Tapi sebenarnya pas jaman Ratu dulu juga banyak sih ya lagu2 slow-nya, Dear Diary salah satunya. Dan kalo dibandingkan dengan dear diary, aku lebih suka dear diary. Juga untuk single upbeat-nya, aku lebih suka lelaki buaya darat dibandingkan penghianat cinta. Tapi lagu Serpihan Sesal ini juga gak jelek lho ya, cuma kalah aja kalo dibandingkan dengan dear diary.

The Rain – Boleh Saja Benci

Kemarin aku ngeliat performance mereka di salah satu acara musik pagi hari (Hayo, apa coba? Aku aja lupa entah di inbox, dahsyat atau apa itu namanya yang di trans tv?). Lagunya lumayanlah, the rain banget. The rain kan lagunya emang model2 begini. Yuk, tak masukin ke playlist lagi ya…

Bunga Citra Lestari – Luilicious

Sebenarnya aku termasuk penggemar lagu2nya BCL, tapi pas pertama denger lagu ini koq aku kurang dapet feel-nya ya. Baru setelah dengerin yang kedua lumayanlah, tapi tipe2 lagu kayak gini mudah dilupakan. Untungnya ini bukan single pertama atau keduanya jadi gak masalah. Aku lanjutin review track berikutnya ya unge…

Afgan – Bukan Cinta Biasa

Aih, judul lagunya koq sama dengan lagunya Cik Siti Nurhaliza ya? Tau donk ya, lagu itu kan cukup populer juga di jamannya (masa’ gak tau sih? Apa pura2 gak tau ni, hehehe). Tapi musik dan liriknya beda koq, hehehe…

Pertama dengerin aku langsung tau kalo ini suaranya Afgan. Lagu ini kabarnya merupakan hits pertama dari album keduanya, sekaligus dijadikan soundtrack untuk film yang berjudul sama. Tapi kalo dibandingkan dengan hits pertama album pertama (Terima Kasih Cinta), lagu ini kalah nendang. Walau begitu, menurutku airplay-nya diradio cukup tinggi koq karena tetap banyak yang request.

Maia – Sang Juara

Sewaktu men-download Serpihan sesal gak sengaja aku juga nemuin lagu ini, jadi sekalian aja aku download. Ini aku lagu theme song ya? Atau semacam lagu buat acara atau penghargaan apa gitu? Soalnya liriknya seperti itu. Lagunya kurang asik, monoton, dan selalu mengulang2 akulah sang juara. Sekali denger aja dah bosan. Kesimpulannya, gak usah disimpulkanlah ya,hehehe…

Ridho Rhoma – Menunggu (Special Track)

Dari namanya dah ketahuan ya kalo beliau putra bang haji, hehehe…. Gak lari dari pakem ayahnya, Ridho juga memilih jalur dangdut. Dengerin lagunya koq sepertinya aku merasa berada di puluhan tahun yang lalu. Zaman ketika film2 bang haji (bareng Yati Oktavia atau Rika Rahim) sering di putar di TPI, lagu2 ini seperti yang jadi soundtracknya… Hehehe, jadi ketahuan deh pas masa kecilku aku suka nonton film bang haji.

Pas lagu ini aku dengerin di laptopku, gak sabar aku pengen nge-klik tombol NEXT karena bosan dengerinnya. Lagunya cukup panjang (hamper 5 menit), tapi lirik yang itu2 aja diulang2 (khas dangdut banget kan ini). Cuma pas ngeliat di TV cukup menikmati koq, menikmati klipnya maksudku. Klipnya tipe2 yang ada alur ceritanya gitu….

Oke deh, sekian dulu aja. Tar kalo ada lagu baru lagi tak review lagi deh.

CU

Udah 3 minggu aku ninggalin jogja. Bukan ninggalin untuk selamanya sih, insya allah 1 bulan lagi bakal balik ke jogja. Tapi, pas aku tiba di jogja nanti beberapa teman dekat sudah gak di jogja lagi. Ada yang udah tamat trus dapat kerjaan di kota lain, ada juga yang baru wisuda trus memutuskan pulang kampung, dan berbagai macam alasan lainnya. Sedih banget rasanya, selama lebih dari 5 tahun bersama namun pada akhirnya harus berpisah. Walaupun perpisahan sangat menyedihkan, tentunya aku tak akan menyesali pernah bertemu orang2 seperti mereka. Justru aku sangat bangga dan senang bisa mengenalnya.

Banyak kenangan bersama mereka, ada teman yang suka datang ke kos, ada teman yang asik diajak nonton bareng, ada teman yang suka bantu TA & Penelitian, ada teman yang suka ngasih quotes, ada teman yang asik di ajak jalan, ada teman yang mau diajak ngobrol (sms) ditengah malam, ada teman yang butuh ojekku, bahkan ada teman untuk berbagi rahasia…

Walaupun tidak semua akan segera meninggalkan jogja, tapi suatu saat nanti perpisahan itu pasti datang. Jadi ini semacam testimoni dariku untuk mereka. Nah, urutannya berdasarkan urutan alfabet nama panggilan mereka. Gak enak kalo aku prioritaskan seseorang diurutan teratas sedangkan yang lainnya berada dibawah. Mereka semua spesial bagiku, jadi urutan alfabetis adalah hal yang aman, hehehe…


CIPTO

Aku kenal cipto sejak semester 1, dia termasuk orang2 yang pertama kukenal (persisnya setelah taufik) pas kuliah di tekkim. Dulu (sampe sekarang pun masih sepertinya) dia suka banget cerita tentang bangka, dia bangga banget dengan kampung halamannya. Bagus koq chip, kalo bukan kita siapa lagi yang akan bangga dengan kampung halaman sendiri. Lagipula bangka emang patut dibanggakan, pantainya keren banget keliatannya. Kapan2 aku pengen maen donk, penginapan & makan gratis di rumahmu ya! Sekalian tour ke perkebunan keluargamu,hahaha…

Aku dan cipto memiliki kesamaan masa kecil, yaitu kampung kami sama2 dibanjiri lagu2 malaysia,hahaha… Akibatnya, kami sama2 familiar dengan lagu2 slow rock malaysia jaman 90an (maen tebak lagu yuk chip). Jadi kalo ngebahas lagu2 malaysia cipto ini bisa jadi partner yang sangat pas. Tapi era kejayaannya New Boys aku udah gak ngikutin lagi lho chip, kau yang menang deh, wkakaka…

Dulu (pas semester 3an) setiap habis magrib, aku, cipto, yudi, taufik, dan hanif biasanya nongkrong di angkringan Pak Pe (tempe gorengnya enak lho). Lesehan di bawah pohon biasanya kita makan sambil ngobrol berbagai hal. Biasanya sih topiknya gak jauh2 dari kegiatan dikampus, kalo gak salah dulu sering ngebahas tentang praktikum. Mulai dari asisten yang cukup sadis yang gak segan2 ngasih inhall, sampe asisten yang berang banget karena aku suka nulis Adhie FM dipapan pengumuman (hayo, sapa coba?). Wah, kangen juga makan di lesehannya Pak Pe. Udah lama banget ga pernah makan disana lagi, apa kabarnya Pak Pe ya?

Masih cerita masa lalu, setiap Sunday Morning aku, cipto, propan, catur, yudi, dinar, taufik sering ke GSP untuk olahraga bareng maen badminton atau jogging. Sehabis itu makan pempek palembang di depan GSP atau kalo gak makan lontong Kabitha di depan Mesjid Kampus UGM. Udah lama banget kita gak pernah Sunday Morning lagi ya chip!!! Mungkin gara2 belakangan ini kau sering banget ngaret si chip, hahaha…

Sunday Morning


DINAR

Pada bulan2 tertentu, dinar ini biasanya punya side job. Dan kalo side job-nya sukses biasanya aku, cipto, dan hanif bakal ketiban rejeki juga dapat traktiran makan atau nonton. Kapan dapet job lagi nar? Kabar2i ya kalo dapet, hehehe…

Aku jadi kenal dengan ibunya dan mas endang (kakak iparnya) karena beberapa kali nganterin mereka ke kos dinar yang baru. Waktu itu dia pindah kos, lebih kurang 6 bulan tho disana? Enak ga? Enak gak enak lah ya, pastinya dapat pengalaman berharga donk disana. Tapi kalau pertanyaannya diganti, mau balik lagi gak ke kos itu? Hayo, jawabanmu pasti enggak kan! Nah, tau sendiri donk caranya agar gak balik ke kos itu,hehehe…

Kapan kita ke segara anakan nar? Atau kau aja duluan kesana, kalau menurutmu tempatnya bagus baru kita kesana rame2… Biasanya kan seperti itu, setiap kali aku searching tempat wisata yang baru dan kemudian kuceritain ke kau, dihari berikutnya kau biasanya langsung survey ke tempat yang kumaksud. Kau bisa diandalkan untuk itu, kangen pengen jalan2 lagi ni…

Rafting @ Kali Elo

Sayangnya kami sudah tidak satu kos lagi, kalo satu kos aku kan bisa nebeng makan mangga, rambutan, melon, durian dan buah2 lainnya yang sering dia beli. MAsih ingat tragedi buah anggur nar, hehehe….


FEBRI

ParangtritisSalah satu kenangan memalukanku adalah ketika memberimu kado ultah tapi label harganya lupa dicopot. Kesannya malah seperti pengen pamer harga ya buk!!! Sebenarnya udah 2 kali aku ngingetin mbak penjaga toko itu agar melepas labelnya sebelum dibungkus, tapi dasar mbaknya… Tahun depan ultahmu udah ga di jogja ya? Gak ada perayaan lagi donk L

Gak terasa udah 5 tahun lebih kita bersama ya, dan saatnya untuk berpisah. Sedih buk, biasanya kita maen bareng, makan bareng, tertawa bareng, jalan2 bareng, bahkan kadang terpuruk bareng. Sesama orang yang terpuruk kadang kita bisa saling memahami. Aku ngerti betapa berat perjuanganmu belakangan ini (terutama tentang kesalahan teknis dijurusan kita itu & tentang berulang kali kamu ke utara GSP di siang hari). Untungnya sekarang kamu udah memasuki tahap yang baru ya buk, semoga aja ke belakangnya kamu akan selalu memetik buah yang manis. Aku masih berada beberapa langkah dibelakangmu, semoga aja tidak lama lagi aku akan terlepas dari keterpurukan ini…

Eh, berarti kamu gak bakal dapat update-an lagu2 dari aku lagi donk? Wah, kamu bakal agak2 tertinggal ni jadinya. Tak ceritain ya, kemaren itu temenku yang udah jadi dokter pulang kampung. Dia gak betah ternyata dikampungnya, katanya enakan kuliah (di Jogja). Nah lho, masa’ kamu mau ninggalin jogja secepat ini…

Inget gak buk kejadian ketika aku KKN dan kamu KP. Waktu itu aku cerita sesuatu ke kamu, lalu SMS-ku kamu forward ke seseorang. Tapi, berkat kamu hubungan kami jadi membaik, hehehe…

Ternyata gak perlu ke coffeeshop ya buk kalo ingin memandangi air yang jatuh di permukaan kaca. Hayo, kamu masih inget ga?

Aku penasaran, kalau suatu saat nanti kamu ke jogja (dan aku masih disana) apakah kamu akan membawakanku oleh2 seperti biasanya yang kamu bawakan (kipas2 itu lho,hahaha). Dan sewaktu pulangnya kamu pasti akan dititipin segunung pesanan oleh keluarga dekat dan keluarga jauhmu, hehehe…

Happy Graduation ya buk, salah satu tujuan wisuda itu untuk membahagiakan orang tua sebenarnya. Lihatlah, betapa bangganya mereka anaknya sudah mendapatkan gelar sarjana… Selamat bersenang2 bersama keluarga ya bukk…

Mang Engking


PROPAN

Walaupun nyaris tanpa kesamaan hobi tapi kami malah bisa sangat akrab. Propan hobi bola sedangkan aku sama sekali gak suka. Aku suka acara idol2an sedangkan Propan sebaliknya. Jadi gak perlu memiliki hobi yang sama untuk bisa akrab dengan seseorang.

Konon, kalau kita terlalu akrab dengan seseorang maka perselisihan kadang2 suka terjadi. Mungkin saja, tapi tak selamanya persahabatan yang akrab harus dibumbui dengan perselisihan. Tapi, ketika aku akrab dengan propan beberapa kali memang terjadi perselisihan. Mungkin waktu itu ego kita sama2 tinggi sehingga sedikit saja masalah dapat menyebabkan perselisihan. Untungnya sekarang udah tidak lagi, kalo ingat masa lalu kadang2 suka malu sendiri, hehehe…

Pertama kenal Propan pas satu kelompok mata kuliah KO2, tapi gak langsung akrab. Semakin dekat lagi ketika kami hadir diacara Meet & Greet With Siti Nurhaliza.

Meet & Greet Siti Nurhaliza

Ketika semester 3, aku dekat dengan catur dan kebetulan propan ini dekat dengan catur. Jadinya kami bertiga sering maen bareng dan belajar bareng. Kalau ujian biasanya mereka nginep dikosku dan kami belajar bareng sampe pagi. Aku ingat banget moment pas ujian Termo 1, sampe jam 3 pagi aku belum tidur sedangkan mereka udah pules. Tapi pas nilainya keluar dengan sangat menyedihkan aku dapat E, hiks…hiks… Propan nilainya lumayanlah. Catur yang beruntung, aku lupa nilainya apa tapi yang jelas cukup bagus lah. Catur ini memang the lucky man. Tapi pas KF 1, aku dan catur cukup beruntung (beruntung banget malah). Ingat gak pan? Kau yang kurang beruntung, dan kau selalu menganggap dirimu unlucky man.

Masih terinspirasi dengan naruto pan? Naruto yang selalu diremehkan orang lain namun selalu berjuang keras untuk mencapai cita2nya (agar diakui keberadaannya). Kalau ingat2 jaman dulu kau kesel banget dengan seseorang karena dia meremehkan temanmu (temanku juga koq). Masih kesel gak sih sampe sekarang? Udah enggak lah ya, karna semua orang bisa berubah,hehehe…

Sewaktu Nanda minta ideku tentang kado ultahmu tahun lalu, aku langsung teringat benda itu lho pan. Dan aku sangat yakin kau gak bakal nyangka dia memberikan itu. Bener tho? Dan tentunya itu surprise banget donk! Aku ikutan senang kalo gitu :d


RAMA

Happy Bday, RAm...Dari seluruh teman2 dekatku, mungkin Rama termasuk orang yang baru kukenal. Kukatakan baru karena setelah 5 tahun lebih kita sekampus, aku baru benar2 mengenalnya sejak 2 tahun terakhir ini saja. Sepertinya 3 tahun pertama kami berada pada dunia yang berbeda, bahkan aku tidak begitu ingat pernah sekelas dengannya pada mata kuliah apa saja. Tapi sekarang justru sebaliknya, Rama ini termasuk salah satu teman terbaikku. Walau baru 2 tahun, banyak cerita dan kenangan2 yang takkan terlupa.

Mulai dekat dengan Rama setelah kulker karena ada sesuatu yang jadi penyebabnya. Lalu kebetulan pas penelitian lab kami bersebelahan jadi sering ketemu dan ngobrol. Cerita punya cerita, ternyata dia juga suka American Idol (AI), tontonanku saban sabtu tengah malam waktu itu (jadi inget antique juga ni). Saat itu AI jamannya Melinda Doolitle. Masih ingat gak ram ketika Blake Lewis nyanyiin lagu Bon Jovi yang you give love a bad name dalam versinya sendiri? Atau moment dimana Lakisha Jones mendapat ciuman dari Simon Cowell? Trus, masih inget lagu Grace kelly yang keren itu?

Kami juga sering sharing tentang film dan musik. Aku berhasil ”memaksanya” untuk mengikuti Smallville, untungnya dia suka dan sampe sekarang kami masih mengikutinya. Selain SV, Prison Break (PB) dan 24 juga tontonan yang tak terlewatkan. PB4 episode 7-8 gimana ceritanya Ram? Aku gak punya stok lagi nih… Oya, berkat rekomendasimu aku jadi suka The Sawshank Redemption. Aku gak nyangka ternyata kau suka juga Love Actually, soalnya waktu kutawarkan The Holiday kau tidak begitu suka. Last Samurai-nya keren ya, tapi aku kurang suka LA Confidential ram. Kalo The Prestige & The Illusionist nontonnya pake mikir ya ram, istilahnya apa tho (dulu sering kau sebut)? Kalo soal lagu, salah satu yang kuinget Jason Mraz yang I’m yours seru tuh buat gitaran…

Puncak Suroloyo

Masih inget gak Ram ketika suatu siang yang panas kita ke selatan jogja, sebenarnya udah telat juga tho kemaren tapi untungnya mereka masih mau nerima. Beberapa hari kemudian kita dihubungi dan disuruh datang. Tapi apa yang terjadi? Kau gak ada disana. Untungnya happy ending buat Rama Ananta, tapi bagaimana dengan diriku? Tau gak apa yang kurasakan?

Sepertinya aku kurang beruntung, but who need luck when you got a friend like you ram, huh? Thanx bangetlah untuk support-mu, bukan hanya tentang obsesiku tapi juga saat aku Penelitian dan TA tentunya. Kalau kata nidji, mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia, menarilah dan terus tertawa walau dunia tak seindah surga… Yang aku tau pasti, kau tak akan berhenti memberikan semangat untukku agar aku terus mengejar mimpi…

Ebook-mu yang satu itu keren, saking kerennya sampe ku-print biar enak bacanya. Ada yang lain? Harus kucoba juga ya perjalanan jauh biar sambil menyelam minum susu,hehehe… Kemana kita setelah green canyon yang sangat menyenangkan? (Argh, pasti perjalananmu ke plengkung seru ya).


RISKI

Ketep Pass

Dulu kami janjian pengen partneran pas penelitian, tapi pada saat pengundian ternyata kami terpisah. Tapi, kata orang yang namanya jodoh (jodoh apaan sih) gak akan lari kemana2. Kami berjodoh di Tugas Akhir (TA).

Senang punya partner seperti Riski, apa yang tidak bisa kulakukan dia tidak akan memaksakannya. PFD TA kami dia yang ngerjakan seluruhnya dan aku mengerjakan bagian yang lain. Oya, absen salah satu mata kuliah pilihanmu kurang gara2 aku ndak sih? Diminggu terakhir itu kau gak masuk kuliah karena menjemputku dikos, waktu itu kita mau ngadep pak agus. Berarti gara2 aku ya, I’m terible sorry…

Salah satu perjalananku yang menyenangkan adalah saat kulker. Teman duduk di bus saat kulker seringnya bareng riski, terutama perjalanan pulang. Duduknya di depan pula’, emang paling enak kalo naek bus duduknya di depan jadi bisa melihat2 sepuasnya. Di Jatim Park aku, riski, febrian, dan moris selalu bersama2 mulai saat masuk rumah hantu, main boom2 car, labirin, sampe semua permainan lainnya yang aku lupa namanya. Pokoknya bergembira bersama mereka adalah saat2 yang paling menyenangkan.

Jatim Park

Oya, Happy birthday ki’. Kemarin aku agak2 lupa antara dua tanggal itu, padahal tahun lalu juga gitu tho. Entah kenapa tiap tahunnya aku selalu ragu antara kedua tanggal itu, untungnya feeling-ku tepat. Tahun depan kukira bakal lupa lagi antara 2 tanggal itu kayaknya, hehehe.. Ayo makan2 :d


RUDI

Kenal rudi sudah sejak semester 1, kos kami sama2 di Sendowo waktu itu. Rudi ini adalah tempatku bertanya, mulai dari pelajaran di kampus sampai ke masalah agama. Orangnya baik dan selalu dapat memberikan solusi atas pertanyaan2ku. Sudah tak terhitung banyaknya hal2 yang kutanyakan padanya, baik saat dia masih di jogja, di kupang ataupun solo. Dia termasuk salah seorang yang berjasa dalam penyelesaian TA, Penelitian, Pendadaran, dan ujian2ku.

”Rud, lagi sibuk ga? Aku mau nanya tentang TA. Kalau ga sibuk aku telp ya”. Begitu kira2 isi smsku kalau ingin bertanya saat dia diluar jogja. Lalu dia akan menjawab: ”Tidak yus, telp aja.”

Kalo ntar aku bingung nyelesain laporan KP, aku hubungi antum ya rud,hehehe… Makasih ya rud karena udah banyak tak repotin.


TRIA

Kita habis dari mana coba?Kadang kita bisa kenal seseorang karna orang tersebut adalah teman dari teman kita. Nah, Tria ini adalah teman dekatnya Febri, jadi secara tidak langsung aku mengenalnya dari Febri. Bukan begitu buk?

Kita pernah ketemu tho buk pas nonton konsernya Padi di JEC, kamu bareng Sandra dan aku bareng anak2 pogung. Waktu itu kita belum begitu kenal kali ya karena kalo saling kenal pasti akan gabung bareng, ya kan… Nah pada konser2 berikutnya kita udah sering jalan bareng. Terakhir konser 11 januari-nya Gigi, kamu nekad juga ya pengen nonton. Tapi konsernya emang keren ya buk (dah lama juga ya!)

Eh, inget ga saat aku ”kabur” dari kos kira2 habis magrib trus mampir ke tempatmu. Ingat ga knapa aku kabur? Masa’ lupa sih, kejadiannya ga sampe satu tahun koq (dah ingat?)… Hehehe, lucu juga kalo ingat momment2 itu.

Menit2 terakhir jelang pendadaran pun aku masih nyempetin datang ke kosmu ya buk minta diajarin tentang controller. Kamu juga banyak memberikan support, bantuin ngetik naskah (ups, jadi ketahuan deh), sampe jadi penguji sebelum pendadaran dan seminar penelitian. Saat aku stress kamu juga ikutan stress ya buk. Aih, gak akan lupa deh buk pertolonganmu…

Anyway, kalo sampai saat ini kamu belum dapat kerja jangan terlalu berkecil hati ya buk. Dengan kualifikasi seperimu bukan berarti kamu ga pantas lho, justru mungkin kamu terlalu tinggi buat mereka makanya mereka merasa gak pantas menerimamu karena kamu layak mendapatkan yang lebih daripada mereka. Cari kerja juga tergantung rejeki, mungkin sampai saat ini belum rejekimu tapi percayalah nanti kamu akan mendapatkan yang terbaik. Semangat buk… Semangat…!!!

Aih, narsisnya

Hm, gak ada lagi nonton atau makan bareng. Rasanya cepat banget ya buk, yang sedikit menyedihkan karena kita belum sempat pisahan secara resmi. Tapi janji deh buk, suatu saat kita akan berkumpul lagi. Kalian itu sudah seperti bagian dari diriku, ketika bagian itu hilang tentu aku akan merasa sakit. Aku pengen nangis dulu ya, hiks…hiks…


Ya udah, segini aja deh. Maap gak semua bisa diceritain, lain kali disambung lagi. Aku absenin aja ya: adi, catur, febrian, hanif, moris, taufik, uki, Sandra, yudi, yustya, dll. Pokoknya kalian semua berharga bagiku dan telah memberi warna dalam hidupku. Love Yogya and You….

Angkatan 2003


Aih, lama banget harus menunda postingan ini. Kebetulan lagi ada sedikit kerjaan jadi kegiatan ngeblog-nya terpaksa ditunda dulu. Walaupun perjalanannya sudah berbulan2 yang lalu namun aku masih bisa mengingatnya karena ini merupakan salah satu perjalanan yang sangat berkesan. Karenanya sayang sekali kalau perjalanan yang sangat menyenangkan ini tidak aku ceritakan disini.

Dari parkiran di pantai pangandaran kami segera menuju green canyon. Karena masih sedikit emosi, sepanjang perjalanan aku tidak banyak ngomong dan hanya diam saja. Lumayan dingin juga, karena pakaian yang kami gunakan sepanjang jalan adalah pakaian basahan yang kering dibadan. Males ganti baju soalnya di green canyon nanti rencananya kami juga akan basah2an lagi. Jadi kami tidak perlu banyak2 membawa pakaian ganti.

Setelah kurang lebih 1 jam perjalanan akhirnya kami tiba di objek wisata green canyon. Loket pembelian tiket telah ditutup namun beberapa pengunjung masih mengantri untuk naik perahu. Mereka adalah orang2 telah membeli tiket sebelumnya tapi belum mendapat giliran. Kami segera melapor kepada petugas yang ada di ujung dermaga lalu menunggu antrian sebentar.

Sementara itu, emosiku perlahan2 hilang, setelah ngobrol2 aku kembali ceria. Aku gak tau, apakah mereka tau bahwa sepanjang perjalanan tadi aku sangat kesal. Tau gak ya?

Perahu tiba di dermaga, kami langsung naik dan siap mengarungi sungai menuju green canyon….

Di dalam perahu

HIJAU…. Satu kata itulah yang ada dibenakku ketika berada di dalam perahu. Air yang berwarna hijau, rindangnya pepohonan, dan sejuknya udara sangat memberikan ketenangan dan menyegarkan pandangan. Tempat ini sangat cocok untuk berwisata alam setelah jenuh dengan segala rutinitas sehari2.


Bebatuan di pinggir sungai

Semakin ke dalam, mulai tampak dinding2 berbatu di pinggiran sungai. Ketika celah semakin sempit, disinilah batas akhir perahu. Dan petualangan selanjutnya adalah mengarungi green canyon dengan cara berenang .

Setelah mengenakan pelampung kami segera turun dari perahu. Melewati bebatuan dengan cara merayap akhirnya kami dapat menikmati pesona stalaktit dan stalagmit di green canyon ini. Dinding-dinding menyajikan keindahan tersendiri, terlihat beberapa air terjun kecil yang sangat menawan.

Aselinya indah banget

Mari kita berenang

Tak cukup hanya melihat2 saja, kami segera berenang ke bagian dalam green canyon. Airnya sangat jernih dan tawar rasanya. Tak hanya indah dipermukaannya saja, konon pemandangan di bawah air juga tak kalah menarik. Pemandangan menakjubkan cekungan-cekungan di dalam air siap untuk ditelusuri, lengkap dengan ikan-ikan yang berenang di dasar lubuk. Jadi jika anda hobi menyelam, jangan lupa bawa perlengkapan menyelam kalau berkunjung kesini. Bagi yang ingin tantangan adrenalin, disini ada sebuah batu batu besar dengan ketinggian 7 m di atas permukaan air. Banyak orang2 yang melompat dari batu itu, sayangnya aku tidak cukup berani untuk itu. Walau begitu, sedikitpun tak mengurangi serunya petualangan ini.


Petualangan berakhir ketika kami sampai di ujung green canyon. Di bagian ujung inilah terdapat sebuah air terjun. Arusnya cukup deras dan view-nya sangat bagus untuk foto-foto. Kabarnya disekitar sini juga ada gua kelelawar, tapi karena udah terlalu gelap sehingga kami memutuskan untuk segera pulang. Berenang pulang menuju perahu cukup mudah karena hanya mengikuti arus saja, jadi tidak terlalu banyak menguras tenaga.

Di ujung Green Canyon

Diterjang air

Selain biaya 75 ribu yang dibayar di loket, kami menambah membayar 50 ribu kepada akang pemilik perahu dan menjadi guide plus fotografer. Ya gapapalah, kasian juga akangnya lama nungguin kami. Lagipula masih suasana hari raya, tak ada salahnya memberi lebih kepada orang lain.

Adzan magrib berkumandang ketika perahu kami tiba di dermaga, kami memutuskan menjamaknya saja saat shalat Isya di mesjid pangandaran nanti.

Setelah mandi dan shalat, kami makan malam di salah satu rumah makan di sekitar mesjid pangandaran. Harganya yang lumayan mahal tidak sebanding dengan rasa masakannya. Malah menurut Dinar, udang yang ada di capcay-nya basi.

Jam 8.30 malam, kami segera pulang menyusuri jalanan yang sangat gelap dan berliku2 dengan kondisi badan yang sangat capek. Alhamdulillah, setelah 2 jam perjalanan kami tiba dirumah dinar. Ditengah perjalanan tadi sebenarnya ada sedikit trouble dengan motorku. Untungnya trouble itu tidak menghambat perjalanan kami dan motorku tetap dapat dikendarai walaupun harus membuka penutup rantainya (apa istilahnya ya, aku juga gak tau).

Seru dan mengasyikan, perjalanan melelahkan ke pantai karang nini, pantai pangandaraan, dan green canyon ini merupakan one of the best trip I’ve ever had. Thank banget buat Rama, Dinar, Anang&KD yang mau diajakin jalan bareng. Kemana perjalanan kita selanjutnya?


Sampai Jumpa lagi di trip berikutnya

Happy Wedding, Vera….

Juno : “Mungkinkah 2 orang yang hidup bersama bisa bahagia selamanya?”

Ayah : ”Yang jelas itu tidak mudah. Hal terbaik adalah kau mencari orang yang mencintaimu apa adanya. Baik dalam keadaan senang, sedih, kesal, atau apalah. Orang yang tepat akan berfikir kaulah matahari baginya. Orang yang seperti itulah yang pantas dipertahankan.”

Kebetulah aku habis menonton film yang berjudul Juno, film yang sangat disenangi temenku, dan kalimat itu aku kutip dari salah satu scene dalam film ini.

Sudahkah aku menemukan orang yang mencintaiku apa adanya? Entahlah, aku tak ingin membahas tentang diriku. Tapi yang jelas, Vera telah menemukan Mas Eka yang akan mencintainya apa adanya.

Selamat menempuh hidup baru ya Ve, semoga sakinah mawaddah warahmah. Ngomong2, ntar anak kalian bakal masuk tekkim juga ndak secara didalam jiwa kedua orang tuanya mengalir darah teknik kimia (Halah, apa coba!!!)

Udah 5 orang teman seangkatanku yang menikah dan uniknya mereka semua menikah dengan teman satu jurusan. Yang pertama Bapak Rudi dan Ibu Ni’mah, keduanya teman seangkatanku. Yang kedua Uni Dewi dan Zaki, mereka berdua juga teman seangkatanku. Yang terakhir Vera, walaupun suaminya tidak teman seangkatan tapi masih dalam jurusan yang sama yaitu teknik kimia. Sebenarnya tradisi menikah dengan teman satu jurusan ini merupakan tradisi turun temurun sejak jaman dahulu, buktinya banyak dosen2ku yang melakukannya. Yang berikutnya bakal menikah dengan sesama tekkim juga ndak ya? We’ll see

Tak ada yang salah dengan semua itu, malah bagus menurutku. Kalau yang terbaik itu ada disekitar kita untuk apalagi kita jauh2 mencari keluar. Akupun kalau ditakdirkan berjodoh dengan teman satu jurusan tentu akan menerima dengan senang hati, tapi kalau ternyata jodohku adalah seorang dokter, pengajar, atau news presenter aku juga tak akan menolaknya,hahaha…

Sekali lagi, selamat berbahagia ya Ve dan semoga menjadi istri yang baik. Buat temen2ku teknik kimia 2003, kalau punya rencana menikah di Jogja buruan aja sebelum februari, biar temen2 yang datang masih rame seperti pernikahannya Vera. Ditunggu undangannya ya ( Who’s next???)

Jam setengah tujuh pagi, kami telah selesai sarapan. Kemudian dengan memakai 2 buah motor Aku, Rama, Dinar, dan Anang&KD segera menuju Green Canyon. Cuaca saat itu agak mendung, sampai2 ditengah perjalanan Dinar berhenti sejenak untuk membeli jas hujan

Setelah kurang lebih 1,5 jam perjalanan, kami tiba di kecamatan Kalipucang. Disini terdapat sebuah pantai yang bernama Pantai Karang Nini. Dinar mengajak kami untuk mampir dulu disini sebelum menuju Green Canyon dan pantai pangandaran. Setelah membayar Rp14.000 untuk 2 motor dan 4 orang, kami segera memasuki pintu gerbang pantai itu.

Jalan menuju pantai agak rusak. Aspalnya sudah bolong2 dan tidak terlihat tanda2 akan diperbaiki. Selain itu jalannya cukup curam sehingga butuh ekstra hati2 untuk melewatinya. Namun, hutan jati yang ada di kiri dan kanan jalan mampu memberikan kesejukan dan ketentraman hati.

Setelah sampai di tempat parkir, kami segera menuju bibir pantai. Perjalanan menuju bibir pantai sungguh mengasikkan karena hembusan angin dan rindangnya pepohonan. Sesuai namanya, pantai ini adalah pantai berkarang. Konon, disebut karang nini karena salah satu karang disini menyerupai seorang nenek yang sedang menunggu kakek.

Sungguh menakjubkan memandang laut dari atas batu karang. Sungguh asik menyaksikan deburan2 ombak dari atas ketinggian. Aku sangat senang bisa menikmati pemandangan yang luar biasa ini.

Setelah puas berada di atas batu karang lalu kami memutuskan untuk turun ke bawah, disini kami mendapatkan pemandangan yang tak kalah indahnya.

Sayang sekali, kami tidak bisa berlama2 bermain dipinggir pantai karena tiba2 hujan turun dengan derasnya. Tak apalah, kami juga sudah cukup puas disini dan harus melanjutkan perjalanan.

Hujan seperti ini biasanya lama, bisa jadi akan mendung terus sampai sore”. Aku berkata begitu karena langit terlihat sangat hitam

Sebuah mukjizat datang, beberapa saat kemudian hujan reda sehingga kami dapat langsung melanjutkan perjalanan. Sebenarnya kalaupun hujan tak reda kami tetap berniat untuk melanjutkan perjalanan karena sudah jauh2 datang dari Yogya. Untungnya Allah memberi kemudahan dengan menghentikan hujan sehingga perjalanan kami kembali lancar.

Selanjutnya kami akan menuju Green Canyon. Untuk sampai kesana sebenarnya kami melewati depan pintu gerbang pantai pangandaran. Namun karena tujuan utama kami adalah Green Canyon maka kami melewatkan pantai pangandaran dulu, dan akan kesana terakhir saja sekalian pulang.

Sebelum sampai ke pintu gerbang pantai pangandaran terjadi antrian kendaraan yang cukup panjang. Terjadi kemacetan sepanjang 5-6 KM sehingga kami harus mengurangi kecepatan. Mungkin karena hari ini adalah puncak hari libur maka banyak keluarga yang ingin berwisata ke pantai pangandaran sebelum berakhirnya libur lebaran.

Akhirnya kami sampai di depan pintu gerbang pantai pangandaran. Dari sana kemudian kami belok kanan ke arah barat menuju kecamatan cijulang. Tidak sulit untuk menuju green canyon ini karena jalan menuju kesana bagus dan adanya papan penunjuk arah yang cukup jelas sehingga kita tidak akan tersesat. Hanya saja, setelah melewati kecamatan Parigi jalanan agak berliku2 sehingga perlu ekstra hati2.

Sekitar jam 10 lebih, setelah lebih kurang 1 jam perjalanan dari pantai pangandaran akhirnya kami tiba di obyek wisata green canyon. Sebelum menikmati keindahan green canyon kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Selain itu, Dinar dan Anang&KD juga menyempatkan membeli celana pendek sebagai basahan untuk berenang di green canyon nanti. Setelah makan dan berganti pakaian untuk basah2an (dan tak lupa menitipkan barang bawaan kami kepada pemilik warung makan) kamipun segera membeli tiket untuk masuk ke green canyon. Tiket ini merupakan tiket sewa perahu karena untuk mencapai green canyon kita harus menyusuri sungai cijulang dengan menggunakan perahu. Harga sewa perahu adalah Rp.75.000 dengan kapasitas penumpang maksimum 5 orang.

Ternyata jumlah pengunjung green canyon hari ini sangat membludak sehingga terjadi antrian yang cukup panjang. Kami mendapatkan tiket dengan nomer urut 394 sedangkan yang menggunakan perahu saat ini baru diurutan ke-250. Kata petugasnya butuh mengantri sekitar 2 jam baru sampai giliran kami, bete ga sih?

Daripada waktu terbuang percuma, kami memutuskan untuk mengunjungi objek wisata lainnya saja terlebih dahulu. Sebenarnya disekitar green canyon cukup banyak tempat wisata yang menarik seperti pantai batu karas, pantai batu hiu, dll. Namun karena sebelumnya kami telah berencana akan mengunjungi pantai pangandaran juga maka kami memutuskan untuk menuju kesana saja. Rute perjalanan tentunya harus kembali ke jalan semula selama 1 jam dan nanti balik lagi kesini sekitar 1 jam perjalanan lagi, artinya kami akan 2 kali bolak-balik melewati jalan ini. Tak apa2lah, tho tujuan kita datang kesini untuk seru2an jadi anggap aja ini bagian dari keseruan itu.

Tanpa pikir2 lagi, kami segera tancap gas ke pantai pangandaran. Perjalanan yang cukup nyentrik menurutku karena sepanjang perjalanan pakaian yang kami gunakan adalah pakaian untuk basah2an. Ya gapapalah, toh ga ada yang kenal kami. Kami tidak membawa pakaian ganti ke pantai pangandaran dan pakaian ganti masih kami titipkan di warung makan dekat green canyon tadi.

Setelah 1 jam, kami tiba di pintu gerbang pantai pangandaran. Dengan membayar Rp.12.000 untuk 2 motor dan 4 orang kami segera memasuki kawasan pantai pangandaran. Banyak sekali kendaraan baik mobil maupun motor yang hilir mudik sampai2 membuat macet jalanan disekitar pantai. Setelah memarkir motor kami segera menuju pantai. Saat perjalanan menuju pantai seorang pemuda menghampiri kami yang kemudian menawarkan penyewaan perahu untuk menyeberang ke Pasir Putih dan melihat-lihat karang di dalam laut yang indah dengan tarif Rp.10.000/orang. Merasa cocok dengan tarif tersebut kamipun setuju.

Setelah berada di pinggir pantai aku sangat kaget melihat ribuan orang, baik tua maupun muda, semua tumpah ruah disini. Pantai ini sangat landai sampai ratusan meter ke tengah sehingga aman untuk berenang dan bermain ombak. Karenanya, banyak keluarga yang membawa anak2 mereka berenang disini sambil berekreasi menghabiskan libur lebaran. Melihat ramainya pengunjung, pantai ini layak dikatakan sebagai kolam renang raksasa.

Kami segera menaiki perahu. Letak pantai pasir putih sebenarnya tidak begitu jauh, yaitu di balik bukit yang terlihat pada gambar di samping ini. Namun aku tidak tau apakah untuk menuju kesana bisa dengan berjalan kaki atau tidak. Kalaupun bisa pasti akan memakan waktu dan tenaga, maka tak ada salahnya untuk menyewa perahu. Dengan naik perahu kami bisa melihat pantai dari tengah laut. Selain itu kami juga dapat melihat karang2 di dasar laut yang indah. Sayangnya aku tidak melihat ikan2 disekitar karang2 tersebut. Mungkin ikan2nya pada kabur karena banyaknya pengunjung kali ya…

Setelah sampai di pantai berpasir putih, kami segera turun dari perahu dan berenang di pinggir pantai. Disini juga tak kalah rame, ada yang berenang dan ada juga yang sekedar duduk2 menikmati indahnya pantai. Anak2 kecil tak kalah heboh, mereka asik bermain membuat istana2 pasir. Pengunjung lainnya memilih menikmati laut dari atas bukit dipinggir pantai ini. Kami juga menaiki bukit itu karena tak ingin melewati kesempatan yang ada. Wouw, luar biasa. Dari sini terlihat jelas seluruh pengunjung jumlah pengunjung pantai pangandaran. Sungguh sangat2 ramai…

Tepat jam 1 siang, kami meninggalkan pantai pasir putih dan kembali ke pantai pangandaran yang ramai pengunjungnya. Setelah diterjang tsunami beberapa tahun lalu, kini pantai ini telah dipasang alat pendeteksi tsunami untuk menghindari korban apabila tiba2 terjadi tsunami. Penjagaan dan pengawasan dipantai ini juga lumayan bagus karena di tengah laut terlihat beberapa kapal polisi pantai yang siap siaga menolong jika terjadi musibah.

Setelah sampai dipinggir pantai, kami kembali melanjutkan kegembiraan. Kami menyewa sebuah ban pelampung dan papan selancar yang banyak ditawarkan dipinggir pantai. Terjangan ombak adalah hal yang kami nanti2kan untuk menggerakkan ban pelampung dan papan selancar. Tawa dan teriakan kami bersatu dengan kegembiraan seluruh pengunjung.

Dinar kemudian pamit kepada anang&KD untuk mengunjungi keluarganya. Kebetulan keluarga dinar juga berlibur di pantai ini namun berada disisi yang lain. Kami tetap bermain ombak dengan berganti2an memakai ban pelampung dan papan selancar. Sampai jam ½ 3 sore dinar belum kembali, padahal kami sudah lelah bermain. Kemana Dinar, koq belum kembali juga? Padahal kami harus segera ke green canyon karena petugasnya tadi menyuruh kami kembali sebelum jam4 sore. Karena perjalanan dari pangandaran menuju green canyon selama lebih kurang 1 jam maka seharusnya kami berangkat dari sini paling lambat jam 3. Dimana mencari Dinar? Sangat sulit menemukan seseorang diantara ribuan dan kami tidak membawa handphone jadi tak bisa menghubunginya.

Daripada hanya menunggu kami memutuskan untuk mencari dinar dengan cara memanggilnya melalui pengeras suara, kebetulan didekat sana ada pos informasi. Sepertinya ini cukup efektif karena pengeras suara ini dipasang dibeberapa tempat sehingga bisa didengar diseluruh penjuru pantai. Sebenarnya aku agak sedikit khawatir takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Ternyata pos yang berada didekat kami itu tidak bisa melakukan panggilan, disana hanya ada pengeras suaranya saja. Mereka menyarankan agar menuju pos sebelahnya yang berjarak sekitar 400meter. Sebelum menuju pos berikutnya aku kembali ke pantai untuk memberi tahu Rama dan Anang&KD agar tetap menungguku disini jika Dinar kembali ketika aku menuju pos informasi.

Aku segera menuju pos kedua, namun ternyata lagi2 disini hanya ada pengeras suara saja. Mereka menyarankan untuk menuju ke pos utama yang jaraknya tak kurang 500meter dari pos kedua ini. Aku heran, kenapa di pantai yang seluas ini mikrofonnya hanya ada di pos utama saja. Dalam suasana agak panik mencari seseorang, ketika harus dioper dari satu pos ke pos lainnya pasti akan menambah kepanikan. Seharusnya disetiap pos2 terdekat kita bisa melapor dan setiap pos terhubung dengan alat komunikasi seperti interkom, handy talky, atau apalah sehingga pengunjung tidak harus menuju pos utama kalau ingin mencari orang hilang. Yang bikin heran juga, kenapa petugas di pos pertama mengoperku ke pos kedua. Berarti petugas2 disana tidak tau kalau di pos kedua juga tidak ada mikrofonnya. Ini nih yang jadi catatan, koordinasi antar pos kurang baik.

Dengan sedikit berlari dan tanpa alas kaki aku segera menuju pos utama. Setelah bertanya beberapa kali kepada pedagang dipinggir pantai akhirnya aku sampai di pos utama. Aku kemudian melapor dan berpesan agar dinar segera menemui kami di pinggir pantai tempat semula. Pesanku disampaikan petugas sebanyak 2 kali dimikrofon. Yah, koq Cuma 2 kali ya! Apa dinar mendengarnya? Semoga saja…

Aku harus kembali menemui Rama dan Anang&KD di pinggir pantai. Tak ingin membuat mereka menunggu terlalu lama, beberapa kali aku berlari menuju mereka. Tapi apa yang terjadi? Mereka tak ada di pantai, padahal tadi aku sudah mengatakan agar mereka menungguku disana. Kemana mereka?

Kesana kemari kuarahkan pandangan mencari mereka diantara pengunjung2 lainnya. Kebetulan aku tidak memakai kacamata karena pas berenang tadi kacamata kutaruh di tas kresek yang dipegang dinar, jadi cukup sulit untuk benar2 fokus. Setelah 10 menit aku dalam kebingungan kemudian Rama datang. Rama mengatakan kalau mereka (termasuk Dinar) menunggu diparkiran.

Aku sungguh sangat kesal dan emosi, tadi janjian ketemu dipinggir pantai tapi mereka malah gak ada . Mereka menunggu di parkiran. Sebenarnya ketika mereka tidak ada dipantai aku sudah berniat menuju parkiran berharap menemukan mereka disana. Tapi sayangnya aku lupa arah menuju parkiran. Mungkin karena udah tidak fokus atau mungkin juga karena sebelum menuju lokasi parkir dinar terlalu lama mengajak motor kami berputar2 sehingga membuat aku buta arah.

Jam 3 lebih 15 sore. Perjalanan yang tadinya sangat seru dan menyenangkan menjadi sedikit ternoda dengan kejadian ini. Dalam hati aku masih saja kesal. Tak ada lagi keinginan untuk ke green canyon, ditambah hari sudah semakin sore.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah kami akan meneruskan perjalanan ke green canyon? Apakah aku masih saja kesal? Simak lanjutannya pada Lebaran seru part 3 ya…

Laskar Pelangi

Sabtu kemarin aku menonton film Laskar Pelangi di Studio 21 Yogyakarta. Aku pikir datang jam 10.30 untuk beli tiket udah cukup pagi untuk menghindari antrian panjang. Tapi ternyata oh ternyata, aku kalah cepet dibanding orang2 yang juga berburu tiket film ini. Pas aku tiba disana antriannya udah panjang banget,melingkar2 sampai keluar studio. Untuk yang baru datang, ujung antriannya ada di depan pintu masuk CAESAR CAFE. Nah, disinilah aku mulai berbaris ikut mengantri…

Ada 3 jalur baris antrian, aku berada di jalur kedua. Dibelakangku ada seorang ibu2 yang sangat cemas bakal kebagian tiket apa tidak. Ibu itu pengennya nonton yang jam 4 sore karena dia nonton bersama anak2nya. Ughhh, masih kebagian tiket gak ya?

Hampir setengah jam ngantri, aku ketemu Thomas Geronimo yang ”nyerah” dan keluar dari baris antrian. ”Yang jam 7 malem dan 4 sore udah habis!”, katanya. Dia gak mungkin nonton yang di atas jam 9 karena ceweknya punya jam malem. Kasian deh Thomas, malam mingguannya ga jadi nonton bareng deh,hehehe..

Mendengar yang jam 4 sore juga udah habis, ibu yang dibelakangku juga ikutan nyerah. ”Besok saya datang jam 9 pagi aja!”, kata ibu itu. Buk, jam 9 studionya belum buka lho. Jangan lupa bawa cemilan ya buk, ntar bete lho nunggunya. Selamat berjuang Bukkk…

Tak lama kemudian dipasang lagi pengumuman kalo yang siang juga udah habis. Jadi pilihan tinggal yang jam 20.30, 21.00, 21.30, dan 23.00(midnight show). Kalau aku dapat tiket jam berapapun ga masalah yang penting posisi duduknya menyenangkan. Kalau posisi duduk yang jam 21.30 lebih menyenangkan daripada jam 20.30 maka aku akan pilih yang jam 21.30.

Nah, gambar itu aku ambil pas 40 menit mengantri. Posisiku masih diluar studio, yang antri dibelakangku juga masih panjang, lagi2 sampai depan Caesar Cafe. Nih aku kasih gambar lagi pas aku sudah sampai di pintu masuk studio 21.

Film ini sebenarnya udah tayang lebih dari setengah bulan tapi yang mengherankan antriannya masih saja panjang. Selain diputar di studio 1 yang mana kapasitasnya paling besar, film ini juga disisipkan di studio 2, 3, 4, dan 5 untuk beberapa kali penayangan. Jadi dalam sehari film ini diputar sebanyak 9 kali (10 kali kalau hari sabtu). Pantas saja kalau film ini sudah disaksikan oleh jutaan penduduk indonesia melihat dari antusiasme yang masih tinggi sampai saat ini.

Akhirnya setelah hampir 1,5jam mengantri, tiket pun udah ditangan. Aku kebagian yang jam 21.30, ya sudah gapapalah. Selamat menonton…

Pukul 23.30 aku selesai menonton film ini. Ternyata jam segini masih banyak anak2 yang ikutan nonton, padahal udah lumayan malam loh. Tapi sebagian dari mereka malah udah pada ketiduran sambil digendong orang tuanya keluar bioskop, kasian ya hehehe…

Menurutku film ini bagus, aku kasih 4 dari 5 bintang. Riri Riza berhasil memvisualisasikan sebuah novel ke dalam bentuk layar lebar. Walaupun ada bagian2 yang mengalami penyederhanaan cerita sehingga menyebabkan hilangnya beberapa detail tertentu tapi itu tak mengurangi keutuhan cerita laskar pelangi versi novel. Mungkin kalau mau dibikin persis sama dengan novel gak cukup film berdurasi 2 jam kali ya, lebih pas kalau dijadikan serial tv belasan episode (tapi bukan sinetron tv yang stripping tiap hari sampai ratusan episode loh ya, bisa hancur ceritanya ntar).

Mmm, tapi scriptwritter sempet2nya ya menambah satu cerita yang sebenarnya tidak ada di novel. Aku sempat bertanya2, apa aku lupa isi novelnya atau bagian ini hanya tambahan di film sebagai bumbu agar lebih dramatis lagi. Tak apa2lah, toh tidak merusak cerita, beda seperti film ayat2 cinta.

Cara pengambilan gambar di film ini keren banget sehingga kita yang menonton juga dimanjakan keindahan alam belitong. Aku harap piala citra diraih film laskar pelangi untuk kategori ini (nama kategorinya apa ya?). Cut Mini kandidat yang paling kuat (mengalahkan Carissa Putri dan Titi Kamal) untuk meraih piala citra kategori pemeran utama wanita. Pemeran Mahar (aku belum hapal nama aslinya) juga bagus lho aktingnya, bisalah masuk kategori pemeran pendukung pria terbaik. Dan tentunya, bersiaplah untuk menerima penghargaan film terbaik 2008. Tak lupa, soundtrack dari Nidji juga nendang abisss, hehehe…

Scene favoritku adalah ketika lintang memutuskan untuk berhenti sekolah, mengharukan banget karena orang sepintar lintang harus putus sekolah. Kalau dilihat ke belakang, betapa gigih perjuangannya untuk meraih pendidikan. Tanpa patah semangat dia mengayuh sepeda puluhan kilo dari pesisir ke SD Muhamadiyah, dan kadang2 harus bertemu buaya dalam perjalanan. Namun karena nasib telah menentukan, dia terpaksa putus sekolah.

Film ini layak ditonton, selain banyak memberi pelajaran juga memberi warna dalam perfilman Indonesia. Semoga sineas2 Indonesia kembali menghadirkan film2 bermutu bagi bangsa ini. Siapa tau, suatu saat nanti salah satu film karya anak bangsa bisa dapat piala oscar.

Ngomongin tentang film, jangan lupa ya untuk menyaksikan pemutaran film2 dokumenter dari Eagle Awards Competition di Metro TV pada tanggal 13-17 Oktober 2008 pukul 19.30-20.00 WIB.

Lebaran kali ini kebetulan aku tidak pulang kampung, menyedihkan gak sih? Mmm, tidak juga. Tidak mudik saat lebaran bukan berarti harus bersedih. Masih banyak kegiatan2 yang bisa dilakukan, travelling misalnya. Hehehe, lebaran koq malah travelling ya, harusnya kan bersilaturahmi. Eitss, travelling bisa sambil bersilaturahmi lho. Mau tau caranya? Pertama, ajak temen2 untuk traveling bareng. Nah ini juga suatu bentuk silaturahmi antar teman tho, sekaligus juga mempererat persahabatan. Kedua, nginepnya di rumah temen aja jangan di hotel. Dengan begitu bisa bersilaturahim dengan keluarga teman. Ya tho? Halah, ngeles banget ga sih…

Well, pernah mendengar nama Green Canyon ga? Bukan, bukan Grand Canyon. Kalo grand canyon itu di amerika, tapi green canyon ini berada di Jawa Barat, lebih tepatnya lagi di cijulang. Kesanalah tujuan perjalanan kali ini. Green Canyon itu jaraknya kira2 1 jam dari pantai pangandaran. Jadi selain menuju Green Canyon rencananya perjalanan ini juga akan mengunjungi pantai pangandaran.

Rencana mulai disusun, rencananya perjalanan pake motor ala backpackers. Target pertama adalah menentukan tempat menginap. Tanpa banyak memilih (padahal emang ga punya pilihan lain) aku memutuskan untuk menginap di rumah dinar, teman satu kampus sekaligus mantan teman satu kost. Dinar ini orangnya suka jalan2 juga, jadi ketika aku ajak ke green canyon dia antusias banget. Rumahnya berada di majenang, salah satu kecamatan di cilacap yang hampir berbatasan dengan jawa barat. Untuk menuju lokasi tidak terlalu jauh, kurang lebih 3,5-4 jam perjalanan (cukup jauh juga ya,hehehe). Kebetulan aku sudah cukup kenal dengan keluarganya jadi bisa agak leluasa dan tidak sungkan2. Plus bisa sekalian bersilaturahmi (halah, lagi2 alasannya silaturahmi,hehehe).

Target selanjutnya adalah mengajak beberapa teman lainnya yang juga mau ikut travelling. Ini bukanlah hal yang sulit karena aku punya beberapa teman yang sehobi denganku. Benar saja, ketika kuceritakan kepada anang&kd dan rama tanpa pikir panjang mereka langsung setuju. Komplit sudah, perjalananpun segera dimulai. Rencananya kami berangkat menuju majenang pada hari ke-3 lebaran, kemudian ke Green Canyon pada hari ke-4 lebaran, dan pada hari ke-5 lebaran balik lagi ke Yogya.

Anyway, aku belum memperkenalkan 2 orang temenku itu. Anang&KD ini nama aslinya Anang Sobari (penting ga sih?). Jangan salah sangka lho ya, walopun namanya pake kata hubung & (Anang&KD), sebenernya dia bukan dua orang tapi hanya satu yaitu Anang Sobari itu tadi (halah, koq jadi ga jelas gini). Dia dulunya teman satu kost-ku dan akan berlebaran di cilacap. Jadi, anang akan menuju majenang langsung dari cilacap pada hari ketiga lebaran. Kalau Rama, dia temen kampusku, teman baikku lah yang jelas. Dia berlebaran di Jogja, jadi aku dan rama berangkat sama2 dari jogja menuju Majenang. Sedangkan Dinar, temanku yang satu lagi, sudah menunggu di rumahnya di Majenang.

Sebenarnya beberapa hari sebelum berangkat aku malah jadi sedikit ragu. Apa iya aku sangup melakukan perjalanan jauh pakai motor ditengah keramaian arus balik ini? Jogja-Majenang itu normalnya bisa ditempuh sekitar 5 jam. Apa aku sanggup melakukan perjalanan sejauh itu, padahal kemampuan mengemudiku tidak bisa di bilang advance. Berita2 di TV tentang kecelakaan pas arus mudik membuat ngeri juga. Kalo boleh jujur, sebenarnya aku takut banget kalo terjadi hal2 buruk yang bisa mengakibatkan kematian. Takut mati karena aku merasa amalku belum cukup, selain itu masih banyak cita2ku yang belum terwujud. Namun karena sudah berjanji pada teman2 dan melihat keinginan rama yang cukup besar maka travelling must go on. Tentunya aku tak lupa terus memohon doa kepada Allah agar diberi keselamatan.

Jum’at 3 Oktober 2008, sekitar jam 5.45 pagi aku dan rama berangkat menuju majenang. Sebenarnya janjian berangkatnya jam 5 lebih dikit, tapi dasar rama, bukan jam 5 lebih dikit kita berangkat melainkan jam 5 lebih banyak. Dia baru nongol setelah aku nungguin sekitar setengah jam. Kami berangkat dengan motor masing2. Aku pake honda karisma kuning dengan kondisi rem tidak terlalu pakem dan Rama memakai honda revo yang dia kasih nama sylvia (Eh ram, seingetku sylvia itu nama motor lamamu deh, koq yang baru namanya sylvia juga? Piye tho?). Dengan membawa sebuah peta pulau jawa, perjalanan melintasi jalur selatan pulau jawa pun dimulai. Aku membawa peta karena kami belum pernah melintasi jalur ini sebelumnya dan kami tidak mengerti kota2 apa aja yang akan kami lewati sebelum sampai ke majenang. Oleh karena itu peta kecil ini pasti akan sangat berguna. Oiya, kebetulan SIM-ku udah habis masa berlakunya, namun hal itu tidak menjadi halangan karena menurutku gak mungkin ada razia dimusim2 seperti ini. Pak polisi pasti akan sibuk mengatur arus lalu lintas yang macet sehingga gak bakal sempat melakukan sidak/razia di jalan raya.

Rama ini bener2 ”kacau”, masa’ sesaat sebelum berangkat dia melepas jaketnya dan menitipkan di rumahku. Gak takut kedinginan apa ram? Dia hanya memakai kaos tanpa lengan dan celana pendek. Ya sudahlah, terserah aja sih (Piiiiisss….Pissss).

Kurang dari 1 jam perjalanan kami tiba ibukota kabupaten Kulon Progo yaitu Wates. Aku cukup familiar dengan kota ini karena pada tahun lalu aku KKN disekitar Wates sehingga sering bolak-balik Yogya-Wates. Kemudian beberapa kilo setelah Wates kami sampai di Purworejo. Melalui jalan lingkar luar Purworejo kami segera tancap gas menuju Kebumen. Sepanjang perjalanan banyak kami temui para pemudik yang ingin kembali ke kota tempat mereka mencari nafkah. Walaupun kondisi jalanan cukup ramai namun perjalanan masih dalam kondisi lancar. Akhirnya Rama merasa kedinginan juga. Untung dia membawa jaket lain diranselnya dan jaket itu segera digunakannya.

Setelah melewati Kebumen cuaca berubah menjadi mendung dan langit berwarna kehitaman. Walaupun sesekali terasa guyuran gerimis namun perjalanan terus berlanjut. Ketika melewati beberapa kota kecil arus lalu lintas menjadi agak macet, hal ini dikarenakan oleh adanya pasar disekitar jalan tersebut. Keramaian yang ada membuat berbagai kendaraan seperti mobil dan bus berjalan sedikit merayap sampai beberapa kilometer, untung motor bodinya kecil sehingga bisa lebih mudah untuk melintas. Karena kondisi inilah aku terpisah dengan rama. Rama tidak melihat saat aku melintasinya. Setelah beberapa kilo meninggalkan kemacetan aku mencoba melirik ke belakang melalui spion mencari Rama tapi ternyata dia gak kelihatan. Lalu aku kurangi kecepatan sambil terus melirik ke belakang. Beberapa menit kemudian HP-ku bergetar, untung HP aku taruh disaku celana (bukan ditas) sehingga aku bisa merasakan getarannya.

Rama menelpon, aku segera menepi untuk menjawab panggilan itu. Ternyata pada saat macet tadi Rama mengira aku masih berada dibelakangnya sehingga dia berhenti sejenak sambil menungguku. Dia tidak melihat saat aku melintasinya karena terhalang oleh bus yang terkena macet. Setelah menjelaskan posisiku Rama segera menyusul dan kami melanjutkan perjalanan lagi.

Setelah merasa agak capek kami memutuskan untuk istirahat sejenak di daerah Gombong. Kalau melihat di peta, daerah ini merupakan titik tengah antara Yogyakarta dan Majenang yang berarti kami telah menempuh separo perjalanan. Energi yang hilang selama perjalanan kami gantikan dengan meminum air mineral dan air yang mengandung ion2 (gak boleh nyebutin merk,hehehe) dan ditambah dengan menghisap beberapa batang rokok khusus untuk Rama. Setelah cukup segar, perjalanan terus berlanjut.

Aku sangat menikmati perjalanan ini, ternyata keputusan untuk melakukan travelling saat libur lebaran ini adalah pilihan yang tepat. Mumpung masih muda (apa iya masih muda?) aku ingin melakukan kegiatan2 yang akan kukenang kelak. Kondisi jalan cukup bagus. Yang cukup mengerikan adalah ketika harus menyalip bus2 besar. Butuh ekstra hati2 dan konsentrasi karena kemampuan menyalipku yang tidak begitu baik. Mungkin karena itulah aku hampir terpeleset saat mencoba menyalip sebuah bus dari sebelah kiri. Saat itu, celah yang ada di sebelah kiri bus cukup lebar sehingga menurutku cukup untuk melaju melalui celah itu. Namun ketika aku berada disamping bus, tiba2 bus itu semakin kekiri dan memaksa motorku untuk turun ke jalan yang tidak beraspal disisi jalan. Untungnya sisi jalan itu cukup lebar dan rata sehingga aku tetap bisa menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh.

Sampailah kami disebuah pertigaan, kalau lurus menuju Cilacap sedangkan kalau belok kanan menuju Bandung dan Jakarta. Berdasarkan petunjuk Dinar yang mengatakan agar mengikuti arah ke Bandung maka kami memutuskan untuk belok kanan.

Tidak terasa udah hampir 4,5 jam aku duduk di jok motor yang kerasnya minta ampun. Sambil terus melaju dijalanan berulang kali aku merubah2 posisi duduk untuk menghilangkan pegel dan mencari posisi wueenakk.

Kami tiba di Wangon, lalu kami berhenti sejenak untuk melihat peta. Ternyata untuk mencapai majenang kami masih harus melewati 3 kecamatan lagi yaitu: Lumbir, Karang Pucung, dan Cimanggu. Perjalanan terus berlanjut. Ada yang cukup menarik jika kita mengamati sebelah kiri jalan. Setiap 200 M anda akan menemukan tulisan2 promosi RM Pringsewu, seperti ”64 KM lagi RM Pringsewu”, kemudian 200 M didepannya ada tulisan berbeda lagi ”RM Pringsewu ada lesehannya”, atau ” Di RM Pringsewu ada tempat bermain anak”, begitu seterusnya sampai anda akan bosan membacanya.

Bosan membaca tulisan2 itu, kini harus ekstra hati2 karena memasuki daerah Lumbir. Busyet deh ternyata jalannya berliku2, selain itu kendaraan yang lewat juga cukup padat. Aku tidak begitu berani menyalip dijalanan seperti ini, makanya untuk menyalip aku selalu memastikan bahwa dari arah berlawanan benar2 kosong. Namun, tiba2 konsentrasiku menjadi sedikit buyar ketika harus ngerem mendadak karena hampir menabrak bus yang ada di depanku. Bus yang berada di depanku itu berhenti mendadak. Untunglah masih bisa ngerem walaupun dengan kondisi rem yang kurang begitu pakem. Untung saja aku tidak terjatuh karena jika terjatuh takutnya terlindas oleh mobil yang ada dibelakangku. Mulutku komat kamit beristiqfar dan tak lupa kemudian mengucapkan alhamdulillah, namun otakku terus saja membayangkan kemungkinan terburuk dari kejadian tadi. Untunglah tidak terjadi apa2 sehingga kami masih bisa melanjutkan perjalanan.

Kondisi jalanan masih berliku2, di kiri-kanan jalan merupakan hutan jati sehingga jarang terlihat perumahan penduduk, termasuk POM Bensin. Lama kami menyusuri jalan berharap menemukan POM Bensin karena bensin kami sudah sangat kritis. Lucu juga kali ya kalau kehabisan bensin dan harus mendorong sampai ke POM bensin berikutnya. Sewaktu berangkat aku mengisi bensin fulltank di Jl. Wates sesaat setelah meninggalkan Yogya. Untunglah kami tidak perlu mendorong motor karena akhirnya kami tiba di Karang Pucung dan di sebelah kanan jalan ada sebuah POM bensin. Kami pun segera mengisi bahan bakar disini.

Tinggal satu kecamatan lagi yang harus kami lewati yaitu Cimanggu. Dan akhirnya sampai juga kami di sebuah kota kecil bernama Majenang. Bukan hanya motor yang harus diisi bahan bakar, tubuh kami juga perlu di-charge dengan mengisi makanan ke dalam perut. Lalu kami memilih untuk makan Soto Sokaraja sebelum melakukan shalat jumat di mesjid yang berada di kawasan alun alun kota Majenang. Setelah shalat jumat baru kami menuju rumah Dinar sebagai tempat transit sebelum berangkat menuju Green Canyon dan Pantai Pangandaran esok hari.

Sebuah perjalanan yang seru, mengesankan dan menyenangkan telah dilewati. Travelling is educating… Lalu, bagaimanakah serunya lebaran di Green Canyon & Pantai Pangandaran? Simak lanjutannya pada Lebaran Seru Part 2 ya…

X.O.X.O

-Adhie FM-

Tulisan Sebelumnya »